Bukan Prioritas Gue
Semua bermula dari ketidakjelasan dalam diri pemuda itu kala menatap netra coklat terang itu. Dalam hati ia bertanya pada dirinya, “Sejak kapan aku tertarik pada mata berwarna coklat terang itu? Rasanya tak asing. Bayangan dalam netra itu seperti pernah ku lihat” Ia mematung setelah Sang Pemilik Netra itu berlalu darinya. Kini Sang Pemilik Netra itu sudah hilang dari pandangannya.
Sadar bahwa pikirannya sudah kemana-mana pemuda itu melanjutkan pekerjaannya kembali. Melanjutkan mengelap meja costumer sebelumnya. sampai akhirnya,
“Fer! Lo liat gak tadi?” tepuk temannya dari belakang sambil menunjuk pintu keluar dengan dagunya.
“Apaan?” jawab pemuda itu sinis.
“Ya ilah, gitu amat. Itu tadi ada cewek hijaban. Cakep bener matanya cuy! “ jelasnya kemudian yang hanya dijawab dengan anggukan tak acuh oleh pemuda itu.
“Fer, gak paham deh gue sama lo. Lo suka kan sama cewek? Lo bahkan gak ada interest sama sekali sama cewek yang minggu kemarin gue kenalin. Fer.... Lo gak homo kan?” tanya temannya sambil memeluk dirinya, merinding.
Feri — pemuda itu memutar bola matanya sambil melanjutkan pekerjaannya. “Cepet selesai gue kerja, cepet rebahan gue di kamar!” ucapnya dalam hati.
“Jawab gue, Fer! Gue cuma mau yakin aja kalau temen gue itu straight!” Kali ini temannya lebih mendorongnya untuk bicara seraya menahan tangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Feri menatap Tom dengan tatapan datar. Sadar bahwa Tom sudah kehilangan batas sabarnya Feri membuka suaranya, “Gue straight. Cuma lo perlu tahu aja, Tom. Gue bukan berasal dari keluarga yang woah kayak lo. Prioritas gue bukan di cewek. Clear, kan?” Feri beranjak pergi dari hadapan Tom. Waktu kerjanya sudah habis, sekarang udah pukul 17.30.
Dalam perjalanan pulang Feri menatap langit yang begitu memanjakan matanya. Warna oranye bercampur ungu ditambah suara lembut angin senja itu. Feri menarik nafas dalam, “Alhamdulillah,” Senyumnya mengembang lebar walau matanya sayu hal itu yang selalu ia lakukan setelah pulang kerja. “Bersyukur itu yang paling penting,” pikirnya.
Komentar
Posting Komentar