Gap Year ep. 01

 "Ok, bismillah" ucapku seraya menekan tombol submit pada website kampus terkenal itu.

Berhari-hari kutunggu sampai waktu pengumuman tiba dan pada akhirnya....

SELAMAT ANDA LULUS

Aku menjerit tertahan. Posisinya aku sedang tidak enak badan saat itu. Semua sudah kupasrahkan hasilnya dan ketika hari kelulusan itu datang aku tidak punya gairah untuk mengecek websitenya sama sekali. Umi yang menunjukkan. Satu rumah bahagia sekali waktu itu sampai pada akhirnya saat melihat biaya uang pangkal....

Rp, 18.000.000 

Aku tersenyum masam sambil menggeleng. "Gak mungkin aku ambil dengan biaya segitu," pikirku saat itu. Umi mencoba negoisasi lain, "Gak apa-apa kalau mba mau ambil. Insyaa Allah ada rezekinya. Mba kan bisa cari beasiswa nanti.".  Abi pun begitu, "Impian mba kan? Ambil aja gak apa-apa. Gak perlu pusig-pusing mikirin biaya itu urusan Umi dan Abi!" Aku tetap menggeleng keras,

"Gak bisa kalau biayanya semahal ini." 

Pada malam itu aku banyak termenung lalu tiba-tiba menangis. Memikirkan solusi lain agar bisa kuliah namun dengan beasiswa atau setidaknya biayanya tidak semahal itu. Aku bahkan sampai berpikir, "Kalo gw anak tunggal kaya raya kayak Na Jaemin sih fine aja. Lah, mana bisa gw ambil seenak itu." pikirku setiap kali putus asa.

Lalu, aku mencoba kampus lain jalur mandiri di daerah Jakarta. Sebenarnya di kampus tempat aku diterima belum kuputuskan harus kuambil atau tidak. Tadinya mau kuambil dengan serius, namun ternyata melihat kondisi keluarga yang lebih banyak butuhnya kuurungkan. Qadarullah, belum di kampus daerah Jakarta itu bukan tempat akhir perjuangan.

Dan selanjutnya ada hal yang tak terduga datang.... 


Komentar